SINOPSIS dan RESENSI BUKU : Letters From Turkey karya @FarisBQ

Siapa yang mau kuliah ke turki? Buku ini sangat cocok buat kalian yang memiliki mimpi kesana. Pertama kali baca buku ini langsung kepincut sama gaya tulisannya yang “susah dijelaskan kata-kata” saking kerennya😀 Bahasanya sih sederhana tapi gatau deh pas bacanya tuh nyentuh banget ke relung hati😛 hihihi Gak bakal nyesel deh kalo udah baca buku ini!

buku letters from turkey

buku letters from turkey

Ini dia sinopsis buku Letters From Turkey karya Faris BQ dari http://www.kautsar.co.id/read/book/29/01/2014/274/letters-from-turkey/ :

Buku ini adalah mata penulis selama bermukim di Turki. Saat menjadi mahasiswa doktoral di Universitas Ankara itulah, Ahmad Faris menunjukkan kepiawaiannya memunguti keunikan manusia, budaya, dan hikmah yang terserak di sana.

Berbeda dengan tulisan perjalanan lain yang lebih banyak membahas hal-hal teknis dan informasi yang umum, buku ini lebih banyak mengajak pembaca untuk berpikir dan menggali inspirasi selama perjalanan di negara asing tersebut.

Selamat terinspirasi!

Dan ada 2 resensi yang akan mimin kasih biar lebih yakin untuk beli buku ini segera😀 hehe

Pertama resensi dari http://ukhaerani.blogspot.com/2014/05/i-owe-you-letters-from-turkey.html?spref=tw :

Setiap selesai membaca buku ‘bagus’, ada perasaan menyusup dalam hati. I owe you. Ya…aku ‘berhutang’ pada sang penulis. Untuk semua pengetahuan yang dimilikinya. Segala pengalaman hidupnya. Dan setiap kata demi kata penuh makna yang pernah dicatat dalam kesehariannya sampai akhirnya menjadi bagian dalam buku.

Seperti buku berkaver merah dengan ornamen gambar pesawat terbang, Turkish Cay Tea, Kiz Kulesi, Hagia Sophia, dan bendera Turki ini. Tebalnya 405 halaman dan terdiri dari bab demi bab penuh ‘energi’ juga inspiratif yang serta merta membuatku tertunduk dalam. “Ini buku keren banget. Kayak buku buat survive, bukan hanya tuk hidup di luar negeri melainkan juga hidup di negeri sendiri dan lingkungan tertentu. Dan bagaimana merawat hubungan dengan orang-orang terkasih saat berjauhan. Hubungan karena cinta.”

Judul Buku          : Letters From Turkey

Penulis                 : Faris BQ

Penerbit              : Salsabila

Genre                   : Catatan Perjalanan

Kalau membaca buku tentang catatan perjalanan di suatu negara, aku kerap bosan. Pertama, buku semacam itu kerap kontekstual banget. Ala-ala buku kampus atau setipe dengan tulisan para jurnalis di media massa. Kaku dan terkesan ‘kotak-kotak’. Kedua, foto-fotonya kerap dihiasi dengan caption ala kadarnya. Sementara, cerita dibalik sebuah foto hanya secuil saja dijelaskan dalam buku dan berupa cerita bangunan dan histori saja. Padahal, aku yang punya sisi curiousity agak lebih ini expect more. Seperti misalnya, adakah sisipan dari penulis tentang ajaran moral atau perbandingan budaya antara suatu negara dengan negara kita. Ketiga, karena aku suka gaya yang luwes dan kreatif dalam penyampaian message in the books (meski aku pribadi kerap dikira kaku orangnya #walah gosip itu, aslinya mah orangnya malas ngomong dan sering sibuk sama pikiran sendiri #don’tTryThisAtHome hoho), aku bisa unmood tiba-tiba kalau penulis membiarkan ruang-ruang kosong pada halaman demi halaman bukunya. Dan banyak alasan lain deh pokoknya. Tapi…buku dari Ahmad Faris a.k.a Faris BQ ini beda!

Mengusung tema Travel, Love and Inspiration buku dari kakak beda tempat tinggal ini benar-benar KAYA akan pemikiran, cinta, kasih sayang, perjalanan yang semuanya terinspirasi dari keMahaKaryaan Tuhan, Allah SWT. Bahasa kakak yang sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph.D)-nya di Ankara University, Turki, major Hubungan Internasional ini begitu lugas (straight to the point) dan entahlah…aku merasanya kalimat yang ditulisnya selalu full of energy, mengajak kita untuk berbuat hal positif, terbaik, lurus, benar dan manfaat. Dan bagian yang paling aku suka adalah saat ia menyampaikan rindu pada istri tercinta dan anak kesayangannya. Hal yang pribadi tapi tidak diumbar malah jadi contoh yang baik buat #ehem para suami dan ayah di mana saja kalian berada. Dan jauh dari kesan menggurui, bahasa tulisannya ‘ngajak’, beneran deh…nggak bohong, beli terus baca aja kalau nggak percaya🙂

Duh…sebenarnya pas nulis dari kata ‘setiap’ sampai emoticon senyum di atas tuh aku udah geregetan banget pengin nulis semua bab di sini…habisnya setiap bab meninggalkan kesan tersendiri di hatiku. Kak Faris, I owe you! Much!

 

Hmm… anyway, aku nggak akan nulis semua isi buku, bukan karena mau bikin kalian penasaran sama buku #LFT –nya Kak Faris melainkan mau bikin kalian curious tingkat tinggi (itu mah sama aja, ulfaaaah…#tepokjidat :D). Tapi…aku mau bocorin beberapa tulisan, quote, dan pesan yang paling menginspirasiku. Dan aku berharap bisa menginspirasi kalian semua, tanpa terkecuali. Siapa pun kalian.🙂

Lelaki dan Sejarah

Lelaki…

Kau bisa hidup nyaman dengan tidak memikirkan sekitar.

Kau bisa berpuas diri dengan hanya fokus pada kehidupanmu yang mungkin cukup mapan.

Kau bisa diam agar orang-orang tidak salah paham, bersangka buruk. Lalu mereka mencibir, membicarakanmu di belakang, atau memusuhimu, sampai mereka mengerti dan merasakan manfaat kerisauanmu.

Kau bisa memilih tidur nyenyak dan tidak susah payah berusaha menginspirasi banyak orang untuk menjadi lebih baik.

Kau bisa mengabaikan sekeliling hingga selamat dari konflik langsung ke hadapan wajahmu.

Kau bisa cari aman tanpa berbuat apa-apa.

Kau bisa menjilat dan bermuka seribu untuk menikmati sepotong coklat.

Lelaki…

Kau bisa hanya hidup untuk DUNIAMU sendiri, tetapi kau akan selalu KERDIL.

…dan sejarah tidak akan pernah berpihak kepada orang-orang kerdil.

Ankara, 11 Desember 2011 (Lelaki dan Sejarah, #LFT halaman 264-265)

Guru yang menyenangkan harus berbobot. Kalau ini harga mati. Soalnya tak baik menzalimi para murid untuk duduk cool di kelas mendengar uraian yang sama sekali tidak penting. Atas sebab ini, selalu kusampaikan kepada mahasiswa-mahasiswaku, bahwa aku bertekad dalam setiap kali pertemuan, harus ada hal baru yang kuberikan. Sebab kalau cuma dari buku,”Mengapa kalian harus buang-buang waktu dan ongkos buat ke kampus yang mulai usang ini?” (tulisan ini…ah…bikin nostalgia aku yang pernah icip-icip jadi kakak guru…#LFT halaman 83-86)

Kekasihku…

Orang-orang yang selalu disapa kemudahan, sesungguhnya tak akan pernah merasakan manisnya kehidupan. (Pengabdian dan Pengorbanan – #LFT halaman 91)

Sahabat yang baik, mungkin engkau akan kaget ketika kukatakan bahwa menurut penelitian psikologi, manusia normal berbicara kepada diri sendiri sekitar 50.000 kali dalam sehari. Kebanyakan yang kita bicarakan itu tentang diri sendiri pula. Sialnya lagi, 80% dari hal itu bersifat negatif. Bisa dibayangkan 24 jam yang singkat, masih dikurangi waktu tidur sekitar 8 jam, kita membicarakan hal-hal yang negatif dengan diri kita sebanyak 40.000 kali (80% dari 50.000)

Ingat-ingatlah dialogmu dengan dirimu sendiri!

“Aku tidak sanggup melakukan seperti itu”

“Bahasa asing sangat susah bagiku”

“Mereka tidak suka kepadaku”

“Aku tidak biasa mendapat kesulitan seperti ini”

“Aku tidak bisa disiplin”

“Besok aku akan terlambat”

“Aku tidak bisa jadi orang baik”

“Aku susah memaafkan”

“Aku belum mantap menikah sekarang”

“Aku tidak percaya bisa mengerjakannya” dan seterusnya

Pikiran-pikiran negatif itulah yang jadi denyut nadi kehidupan kita, mengatur sikap-sikap kita, menentukan batas kemampuan kita atau motivasi kita tuk bertindak. (Apakah Tuhan Memang Dekat – #LFT , halaman 205)

“Seseorang punya wilayah hitamnya, ruang kelam kehidupannya. Tapi dia juga punya Tuhan yang Pengampun, yang dapat memaafkan setiap saat, yang tak peduli dengan dosa-dosanya. Jika Dia berkehendak, maka dalam sekejap lembar hidupnya kembali putih. Sementara dirimu, jika terbersit perasaan lebih suci dan menyusup sebesar dzarrah kesombongan, Tuhan tak mau melihat kepadamu.” (Menghakimi Ruang Kelam Orang Lain – #LFT , halaman 296)

RINDU itu keinginan untuk mengulang masa lalu.

RINDU itu keengganan mengikuti masa sekarang.

RINDU itu ketakutan jika kenangan tidak berulang lagi di masa depan.

RINDU itu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang tertukar-tukar.

Ankara, 2 Maret 2012 (Definisi Rinduku Hari Ini – #LFT , halaman 305)

Nah, kan jadi sepanjang jalan kenangan nulisnya…udah dibilang isi buku Kak Faris BQ ini aselik bikinku pengin nulis semua-muanya…hmm…pokoknya janji beli ya buat yang baca resensi ini (setengah maksa nih hhehe….kemudian aku dipentung berjamaah kepalanya).

Sebelum closing…ada yang paling pamungkas…dan ditunggu-tunggu pasti sama para Jomblo, especially Jomblo Istiqomah ‘till Akad di sejagad raya ini. Yaitu tulisan di halaman 337, doa sang penulis yang low profile dan full of positive energy ini buat para JITA (Jomblo Istiqomah ‘till Akad).

Seru kan…udah baca bukunya segala didoain sama penulisnya…🙂

Semoga Kak Faris BQ…Be Qanaah dan Be Qualified always. Selalu berada dalam lindungan Allah SWT bersama keluarga, dr. Riski Angelina (sang istri) dan Abraham Fener (anak pertamanya). Aamiin.

Kedua dari http://www.dakwahsekolahku.com/resensi-buku-letters-from-turkey/

Dalam setiap perjalanan, selalu ada tiga hal unik yang menjadi perhatian; manusia, alam, dan tak lupa, kuliner. “Bertemu manusia, beserta budayanya, meluaskan pikiran dan gagasan. Adapun memandang alam dapat memperhalus budi dan memperhalus jiwa. Sedangkan kuliner, menikmatinya merupakan petualangan yang memperkaya ragam rasa di lidah dan membekas dalam ingatan,” begitu tulis Faris BQ mengawali bukunya ini.

Buku bertajuk “Letters From Turkey” ini betul-betul menyajikan pengalaman-pengalaman penulis selama di Turki melalui pendekatan yang berbeda. Tak hanya mengumbar keindahan kota Izmir, keanggunan rumah-rumah gunung di Kapakdokya, atau kebekuan Ankara di musim dingin. Kita juga kerap diajak untuk berpikir, merenung, dan memungut hikmah dari setiap episode kehidupan.

Dibagi dalam bab-bab pendek berkisar 3-6 halaman, buku ini memang sepertinya tidak cocok disebut novel. Tak bisa disebut pula sebagai kumpulan cerpen, sebab memang buku ini berisi surat-surat penulis yang dikumpulkan jadi satu.

Surat kepada siapa?

Beberapa surat ditujukan kepada sang istri yang harus rela ditinggalkan bersama sang bayi di Indonesia. Kita dapat membaca kerinduan yang mendalam penulis melalui surat-suratnya, seperti: Nilai Sebuah Pilihan, Malam Terakhir, You Are My Compass, My Map, and My Dictionary, Rindu Berburu Kuliner Bersamamu, dan Wanita Hebat Itu. Bahkan surat berjudul “Wanita Hebat Itu” diakhiri dengan kalimat, “Jika aku bisa berbicara langsung di telingamu malam ini, aku akan berbisik, ‘Hidup ini, Cinta, adalah tentangmu. Tentang bagaimana aku berjuang untuk membahagiakanmu.’”

Selebihnya, bisa dibilang memang ditujukan bagi penyusunan buku ini.

Membaca buku ini, lambat laun kita akan menyadari kepiawaian penulis dalam memetik tiap peristiwa lalu merangkainya menjadi sebuah pelajaran. Hampir tiap surat berisi kisah, lalu hikmah yang bisa kita serap dari kisah tersebut. Seperti kata penulisnya sendiri dalam buku ini melalui surat berjudul Menulis Itu Memetik, “Kata-kata bukan dikeluarkan, sebab menulis sebenarnya bukan menaburkan. Menulis adalah memungut, memetik, dan menangkap dari apa yang telah kita baca, kita rasakan, dan kita lihat.”

Tentang kemampuan kita mendengar, diulas oleh penulis melalui beberapa kisah dalam surat “Latihan Menerima Kritik” dan “Keterampilan Mendengar”. Beliau juga menyodorkan kebudayaan dan kehidupan di Turki lalu mengupasnya menjadi sesuatu yang bernilai, seperti dalam “Inspirasi dari Cara Minum Teh Orang Turki”, “The Power of ‘Apa Kabar?’”, dan “Lima Kesusahan Hidup di Turki”.

Atau mengail pelajaran melalui peristiwa alam dalam “Bahasa Hujan”, “Gempa di Kota Van”, dan “Suasana Hati di Negeri Empat Musim”. Penulis pun juga menghadirkan pengalaman kuliner seperti dalam “Masakan Ibu Versus Masakan Istri” dan “Kuliner Antep yang Maknyus”.

Semua peristiwa dirangkum dan ditulis dalam buku setebal 417 halaman. Dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui, buku ini tetap akan membawa kita berkeliling Turki berkawan pesan-pesan singkat bagi kehidupan.

=======================================================

Buku Letters From Turkey karya Faris BQ ini dapat dibeli dan dipesan di Bursabukuberkualitas.com

Hubungi…

Sms/Whatsapp : 08986508779

PIN BB : 5872795E

LINE : bursabukuid

=========================================

Semoga Bermanfaat yaa sinopsis dan resensinya..🙂

About @Referensi_Buku

Hanya mereferensikan buku yang bibit, bobot, dan bebetnya berkualitas! Dapatkan info seputar buku bagus disini ! Insyaallah bermanfaat.
This entry was posted in @Referensi_Buku, buku bagus, buku best seller, buku faris bq, buku inspiratif, buku islami, buku letters from turkey, buku motivasi, harga buku, novel islami, Pemesanan Buku di 08992255466 (sms/WA), rekomendasi buku, rekomendasi buku islami, resensi buku, sinopsis buku, Toko Buku Online and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to SINOPSIS dan RESENSI BUKU : Letters From Turkey karya @FarisBQ

  1. yuni says:

    Saya suka banget buku tentang perjalanan apalagi buku ini di kemas berbeda selain itu jga ceritanya yg menyentuh dan buku ini menjadi referensi untuk tulisan saya. Ingin bisa mengucapkan langsung kepada penulis semoga di lancarkan untuk karya selanjutnya

  2. walidin says:

    kayaknya mantep banget nih buku buat di ekplore isinya.

  3. astika dwi says:

    wew,,,lgsg di upload foto nya😀 . nice dan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s