SINOPSIS dan RESENSI Buku Catatan Hati Ibunda karya @asmanadia

buku catatan hati ibunda

buku catatan hati ibunda

Apakah anda seorang ibu? Ataukah ingin menjadi seorang ibu? Atau ingin mengenal seorang ibu? Maka, buku ini adalah jawabannya. Semua pengalaman yang didapat bunda asma nadia dituangkan dalam buku ini. Berikut sinopsis buku asma nadia..πŸ™‚

=============================

Assalamu’alaikum,

Terima kasih telah berkenan membuka lembaran buku ini. Sebuah risalah dari keluarga sederhana. Isinya merupakan rekaman hari-hari yang saya jalani sebagai Ibu dari dua anak. Ada juga beberapa catatan dari Ayah. Kebahagiaan, kesedihan, kecemasan, kegamangan, β€˜kepanikan’ bahkan kekurangan kami sebagai orang tua, khususnya saya sebagai bunda terabadikan di sini.

Sebagai pasangan muda, bisa dibilang kami memulai segalanya dengan sangat sederhana. Apa yang dialami kebanyakan pasangan di tanah air, lebih kurang mungkin kami rasakan juga. Baik saya dan suami berasal dari keluarga sederhana. Ketika menikah, Bang Isa masih belum selesai kuliah, dan bekerja paruh waktu di sebuah lembaga kebudayaan asing.

Dalam upaya mandiri, kami sempat tinggal di sebuah rumah sederhana milik keluarga, sebelum kemudian mengontrak dari rumah mungil yang satu ke rumah mungil lain.

Kami mengalami kepanikan saat anak pertama hadir, sementara biaya rumah sakit yang diperkirakan tertutupi ternyata masih jauh dari cukup.

Kami melalui juga β€˜bisnis’ simpan pinjaman (bukan simpan pinjam J) bertahun-tahun. Saya masih mengingat hari-hari menunggu juru taksir perhiasan di pegadaian mengira-ira berapa uang yang bisa dipinjamkannya kepada saya berdasarkan cincin atau gelang anak (maaf ya, Ca), yang kami gadaikan.

Tetapi dalam keadaan begitu, seingat saya … kami santai-santai saja. Masih bisa bercanda, seperti jika saya baru pulang dari pegadaian,

β€œDari mana, Bunda?”

β€œBiasa, Ayah … dari β€˜sekolahan’.”

Kalimat yang disambut senyum Bang Isa,

β€œKasihan Bunda, dari sekolahan bertahun-tahun, masih belum lulus juga.”

Saya tidak melupakan hari-hari itu, tetapi keresahan karena beban ekonomi luntur karena kebersamaan dengan anak-anak.

Kehadiran Caca dan Adam, sungguh karunia luar biasa. Hari-hari membesarkan anak-anak merupakan β€˜sekolah’ bagi saya, sekaligus hiburan. Dan sejauh ini apa yang saya harapkan ada pada anak-anak, alhamdulillah Allah berikan. Karenanya hal-hal lain yang tidak sempurna, kami jalani dengan lebih ringan.

Caca dan Adam yang sering sakit ketika kecil, bahkan hanya karena hal-hal sepele. Jangankan permen atau cokelat, makan rambutan satu biji, bisa membuat kami harus membawa mereka bolak balik ke dokter. Berenang sekalipun hanya sebentar bisa berujung sakit serius.

Tetapi kondisi itu memberi semangat bagi saya untuk berusaha menjaga anak-anak sebaik mungkin. Kadang-kadang agak paranoid, saking kekhawatiran saya yang besar jika terjadi apa-apa terhadap mereka.

Karena anak-anak mudah sakit, saya rajin menggantikan baju mereka, agar tidak berlama-lama dengan baju yang basah keringat.

Karena mereka sering sakit, saya menjaga betul agar mereka tidak terbiasa makan snack yang tidak sehat, atau minum-minuman bersoda.

Karena mereka sering sakit, kami rajin memvakum mainan, kasur, dan ruangan agar tidak berdebu.

Kondisi itu memaksa saya pada situasi tertentu harus bersikap tegas terhadap anak-anak, sekalipun sebagai ibu saya jauh dari tipe ibunda yang anggun dan penuh kelembutan atau yang biasanya terlihat pantas dihormati J. Sebab saya lebih suka memposisikan diri sebagai teman yang menyenangkan ketika diajak bermain. Yang mungkin saja melakukan kesalahan dan karenanya tidak perlu malu meminta maaf.

Tetapi saya belajar, bahwa ketegasan itu tidak perlu ditegakkan dengan kemarahan, dengan main tangan, atau dengan suara galak. Ketegasan adalah perpaduan dari penerapan reward dan bukan hanya β€˜punishment’, serta sikap konsisten terhadap segala sesuatu.

Saya kira anak-anak juga belajar dari cara orang tua memperlakukan mereka. Wajah-wajah mungil itu diam-diam mengamati, melakukan analisa, kemudian membuat coret-coret di benak mereka, bagaimana mereka harus bersikap kemudian, khususnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan J.

Saya mencintai anak-anak. Mereka telah memberikan banyak kebahagiaan, dan melepaskan saya dari hati yang pengap, ketika ujian-ujian lain dalam hidup menghampiri. Dan betapa lengkap rasanya bahagia itu, ketika mendapati ekspresi-ekpresi cinta dari keduanya.

Dengan semua kebahagiaan itu, rasanya saya tidak pantas mengeluh karena hal-hal lain. Juga untuk kondisi ekonomi yang bertahun-tahun cukup minim.

Melewati antrian panjang di ATM dan menemukan saldo rekening yang bahkan tidak mencapai sebelas ribu.

Tivi hitam putih yang harus digebrak berkali-kali agar menyala.

Bolak-balik ke β€˜sekolahan’ sebelum kemudian harus kehilangan perhiasan yang saya miliki ketika gadis, karena tidak mampu menebus cicilan.

Hari-hari panjang menemani Caca ataupun Adam ketika mereka berobat jalan, bahkan menginap di rumah sakit.

Saya tidak bisa mengeluh, karena saya tahu masih banyak ibu yang melalui situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya alami.

Biarpun kecil dan penuh serangga yang membuat kulit bercak-bercak merah, saking tuanya kontrakan kami, setidaknya saya dan anak-anak masih punya tempat berteduh.

Biarpun hanya makan sederhana, nasi dan sayur, jatah telur atau ayam hanya untuk anak-anak, tetapi alhamdulillah kami masih bisa makan tiga kali sehari.

Biarpun melalui masa mengepit map dan masuk satu kantor ke kantor lain, bersama suami dalam usaha mencari pekerjaan, hingga kerongkongan yang kering harus bersabar, sebab di genggaman saya hanya tersisa sedikit uang, cukup untuk membayar ongkos bis pulang.

Tetapi Allah berikan saya begitu banyak nikmat-Nya.

Ayah bagi anak-anak saya, yang ulet bekerja untuk memberikan yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya.

Dua permata hati yang berlomba-lomba memberi kebanggaan pada orang tua mereka. Yang rajin membuat lukisan dan coretan penuh kata-kata cinta untuk bundanya.

Soal bolak-balik ke rumah sakit, setidaknya kondisi kami lebih baik ketika itu dibandingkan Mami yang hampir setiap hari membawa saya berobat ke RSCM sejak saya berumur tujuh tahun sampai usia saya menginjak tujuh belas tahun, dalam kondisi ekonomi yang lebih payah.

Allah, saya tahu saya tak pantas mengeluh.

Pun tidak ketika beberapa ujian-Mu menghampiri.

Saya tahu bersama kesulitan ada kemudahan. Sehingga ketika satu ujian terasa mencekik leher saya, saya hanya harus bersabar dan berdoa … sambil mencoba melihat kemudahan yang sebetulnya menyertai. Dan ketika saya tidak bisa melihat, saya akan mencoba membuka mata lebih lebar, tetap dengan keyakinan … kemudahan itu ada dan Allah iringkan ketika memberi kita ujian-Nya, kalau belum terlihat, mungkin mata kita yang masih tertutup.

Tiga belas tahun usia keluarga kecil kami.

Masih muda dan masih harus banyak belajar, tentang cinta dan menghargai anugerah. Tentang hidup yang begitu layak disambut dengan syukur dan suka cita. Tentang upaya membahagiakan.

Semoga Catatan Hati sederhana ini, bisa menjadi kado kecil yang bermanfaat bagi pembacanya. Allahumma, amin .…

Wassalam

Asma Nadia

==================================

Dan ini dia resensi bukunya yang diresensi oleh Linda Satibi dari kompasiana.com

Judul Buku : Catatan Hati Ibunda

Penulis : Asma Nadia, dkk

Penerbit : AsmaNadia Publishing House

Terbit : Cetakan Pertama, September 2013

Tebal Buku : vii + 304 halaman

Ukuran : 20,5 cm

ISBN : 978-602-9055-19-1

Harga : Rp. 56.000

Menjadi seorang bunda bukanlah tugas yang selamanya berhias senyum dan tawa. Adakalanya mata mendanau diiringi hati yang pilu. Kecemasan, kekalutan, kekecewaan, ketakutan, bahkan kehilangan, acap menghantui perjalanan membersamai anak-anak. Tidak sedikit kemudian para bunda terserang stress dan mengalami depresi. Bahkan media massa pernah memberitakan kasus beberapa bunda yang gelap mata hingga tega membunuh anak kandungnya sendiri.. hii.. na’udzubillah.

Mengasuh dan mendidik anak, yang merupakan amanah Allah, memang bukan pekerjaan ringan. Di dalamnya ada beragam masalah yang penanganannya tidak bisa serupa bagi semua anak. Karena masing-masing anak memiliki karakter yang berbeda. Ditambah kondisi sosial dengan perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan komunikasi orangtua dengan anak tak ayal mengalami gap. Belum lagi masalah ekonomi yang kerap memperburuk kondisi psikologis sang bunda. Hal ini potensial meletupkan friksi. Tidak sedikit orang tua yang mengerutkan kening dan tak lagi mengguratkan senyum manis di bibir. Mereka kebingungan, butuh referensi sebagai panduan. Sayangnya, sekolah menjadi orang tua pun tidak ada. Maka, buku-buku parenting menjadi pilihan.

Di tengah maraknya peredaran buku-buku parenting dengan beragam gaya penyampaian, hadirnya buku β€˜Catatan Hati Ibunda’ merupakan pilihan yang baik. Ini adalah buku yang menggerakkan. Tidak berjejal teori, tidak sarat petuah, namun bertabur hikmah. Di dalamnya para bunda bertutur tentang rupa-rupa ujian dan tantangan yang mengepung keseharian mereka.

Kisah dibuka dengan tuturan Asma Nadia, penggagas buku ini, berupa pengakuan bahwa dirinya bukanlah sosok bunda idaman. Membaca kisah ini, saya merasa, ini gue bangetβ€¦πŸ™‚ Bukan ratu dapur, juga tidak terampil beberes rumah. Bagaimana Asma Nadia menyikapi hal ini, sangat menarik untuk disimak dan direnungkan.

Berturut-turut mengalir cerita tentang bunda yang butuh kesabaran berkarung-karung tatkala menghadapi ulah si kecil, yang terperangah mendapati ananda berbohong, yang mengalami kepanikan ketika mendadak buah hati didera sakit, yang merasa sedih dan bersalah saat ananda berada di ambang remaja dan melakukan hal yang tak pantas, serta aneka kondisi lainnya, sampai masalah bunda yang menghadapi pernikahan yang berujung perceraian.

Tidak hanya bunda yang full IRT namun para bunda wanita karir pun turut berbagi cerita. Salah satunya, ketika seorang bunda mendapat tugas dinas ke luar kota dari kantornya, apa yang terjadi dengan si kecil-nya yang ditinggal dengan pembantu yang baru seminggu bekerja di rumahnya? Sungguh sebuah pengalaman mencekam yang penuh hikmah.

Salah satu ungkapan favorit saya dalam buku ini adalah bahwa mengasuh anak itu tidak sesederhana deret angka, yang berurut, tertata, terduga, dan terencana. Dan berikut ini paragraf yang indah serta bermakna dalam. Terminal bernama keluarga ini tentu saja tak hanya punya angka-angka pengatur jadwal agar kendaraan datang dan pergi tepat waktu. Ada ruang tunggu di sini, tempat jeda yang menepi dari putaran waktu. Tak perlu tergesa karena tempat singgah ini menampung penat, gelisah, cemas, dan semua rasa yang punya nama. Karena kita tumbuh terus dan mendialogkan rasa. Karena kita bukan deret angka yang sempurna (halaman 25).

Ada beberapa kisah dengan tema berbeda yang memperlihatkan betapa dahsyatnya kekuatan doa. Salah satunya terdapat dalam kisah menyentuh tentang sebuah harap dari seorang single parent untuk bisa mendapatkan ayah yang baik bagi buah hatinya. Ia seorang perempuan sederhana, yang merasa tidak memiliki apa-apa selain doa-doa dalam sujud panjangnya di keheningan malam. Doa yang tak putus-putus senantiasa berbaris menuju langit meniupkan asa demi kebahagiaan keluarga kecilnya yang saat itu timpang akibat perceraian yang tak terhindarkan. Kisah ini bertenaga, ia menguatkan, ia mengajarkan kesabaran untuk tak lelah menyusun doa. Sungguh Allah Maha Mendengar.

Tak ketinggalan, bunda yang telah lansia turut berbagi cerita. Diawali pernikahan yang dikategorikan terlambat oleh masyarakat, yaitu saat usia di ambang kepala empat. Maka membesarkan dua buah hati dalam usia yang tak lagi muda, memiliki tantangan tersendiri. Subhanallah, bunda ini punya kesabaran nyaris tak berbatas, tatkala putri bungsunya senantiasa memendam iri kepada kakaknya. Bermacam tingkah polah si adik hanya mampu membuatnya mengurut dada. Bagaimana perjalanan hidup sang bunda bersama kedua putrinya juga suami yang menuju renta, akan membukakan mata hati pembaca dan memberi pencerahan.

Seluruhnya ada 19 kisah yang masing-masing memberikan pengalaman rasa berbeda yang membekas di hati. Saya tersenyum, tergelak, tercekat, terbelalak, tersentuh hingga berurai air mata bersama buku ini. Benarlah kiranya apa yang tertera mengenai buku ini. Sungguh, tulisan ini HARUS dibaca oleh setiap ibu rumah tangga. Sebab akan membuat setiap ibu merasa jauh lebih baik dan bisa melihat potensinya lebih tinggi dari seharusnya. Sungguh, tulisan ini juga WAJIB dibaca oleh setiap suami atau bapak rumah tangga, sehingga karenanya bisa semakin bersyukur dengan pasangan yang dimiliki (halaman 2).

Keragaman cerita menjadikan buku ini kaya warna. Tempat tinggal para bunda tersebar di beberapa pulau di tanah air hingga manca negara. Latar finansial, dari yang mapan hingga yang kekurangan. Background pekerjaan, meliputi ibu rumah tangga juga para wanita karir. Usia pernikahan, mulai yang masih terhitung pengantin baru hingga yang berbilang lebih dari sepuluh tahun. Keutuhan rumah tangga, tidak hanya yang lengkap namun juga yang terseok dalam keretakan.

Maka buku ini benar-benar very recommended.It’s a must read book, tidak hanya bagi ibu dan bapak rumah tangga, namun sangat baik juga bagi para calon ibu dan bapak rumah tangga, karena ada sangat banyak pembelajaran di dalamnya. Pemaparannya pun dilengkapi dengan petikan ayat suci Al-Quran dan hadits yang relevan, serta quote-quote yang penuh motivasi. Dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan terangkai indah, menjadikan buku ini menyenangkan saat dibaca. Pilihan katanya terjaga, susunan kalimatnya tertata, membuatnya jauh dari kesan membosankan.

Ke-19 kisah ini, beberapa ditulis oleh sejumlah penulis ternama. Sebut saja di antaranya: Sinta Yudisia, Sofie Dewayani, Novia Syahidah, Beby Haryanti Dewi, Tria Barmawi, dan tentu Asma Nadia. Covernya khas, menampilkan Asma Nadia, kali ini bersama kedua buah hatinya, sehingga buku ini mudah dikenali.

========================================

Buku Catatan Hati Ibunda karya Asma Nadia ini dapat dibeli dan dipesan di Bursabukuberkualitas.com

Hubungi…

Sms/Whatsapp : 08986508779

PIN BB : 5872795E

LINE : bursabukuid

=========================================

Semoga Bermanfaat yaa sinopsis dan resensinya..πŸ™‚

About @Referensi_Buku

Hanya mereferensikan buku yang bibit, bobot, dan bebetnya berkualitas! Dapatkan info seputar buku bagus disini ! Insyaallah bermanfaat.
This entry was posted in @Referensi_Buku, buku asma nadia, buku bagus, buku best seller, buku inspiratif, buku islami, buku motivasi, buku parenting, harga buku, INVITE PIN : 7DEEFDE0, novel islami, Pemesanan Buku di 08992255466 (sms/WA), PENGALAMAN, rekomendasi buku, rekomendasi buku islami, resensi buku, sinopsis buku, Toko Buku Online and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s