SINOPSIS dan RESENSI BUKU : MENGEJAR NGEJAR MIMPI karya Dedi Padiku

sinopsis dan resensi mengejar-mengejar mimpi

sinopsis dan resensi mengejar-mengejar mimpi

Buku ini dikemas dengan bahas yang ringan banget tapi masuk ke hati. Serius. Saya sendiri sudah membelinya. Dan nggak nyesel banget beli buku ini. Bener-bener buku bestseller yang kece! Dan kabarnya buku ini akan segera difilmkan.. Yaps! bernasib sama seperti teman sekaligus bosnya yakni bunda Asma Nadia🙂

=====================================

Dan berikut adalah Sinopsis Buku MENGEJAR-NGEJAR MIMPI karya Dedi Padiku :

Ini benar-benar diary kocak dari seorang pemuda nekat.
Namanya Dedi Padiku.
Bisa dibilang ini novel tetralogi 4 in 1.
Novel kocak, yang dijamin bikin kamu ketawa.
Juga novel romantis, yang membuat pembaca mabuk cinta.Nggak cuma itu, Mengejar-ngejar Mimpi memilíki banyak bagian haru, yang akan membuatmu ikut berurai air mata.Sebuah novel inspiratif yang menguatkan semangat ketika kamu merasa lemah mencapai cita-cita.Baca kisah perjalanan unik dan nekat Dedí Padîku mencapai impian di Jakarta. Kamu nggak akan percaya ada begìtu banyak kisah terjadi pada satu orang hanya dalam waktu Singkat! Dan kìta bisa belajar banyak dari kisah hidupnva.Tak banyak buku mampu menggugah pembaca seperti ini. Membuat pembaca terhibur dan berkaca-kaca di Saat yang sama.

“Tidak mudah menemukan pengalaman unik, kocak tragis, dan inspiring terjadi pada satu orang. Untuk mencapai impian menjadi penulis, Dedi Padiku harus memulai dari kuli bangunan, kuli pasar, sopir, salesman, pelayan, bahkan sempat direkrut menjadi teroris dan ditawari bekerja sebagai gigolo. kaya pembelajaran berharga untuk semua yang memperjuangkan impian.”
Asma Nadia, Penulis 49 Buku Best Seller.

“lni novel yang secara isi Iebih kuat dan kaya dari Laskar Pelangi. Dedi Padiku mampu menghanyutkan pembaca dalam ramuan kisahnya. Tangis, tawa, derìta, dan bahagía dalam satu cerita. Benar-benar menginspirasi pembaca!”
Armiadí Asamat, Penggiat Kepenulisan

“Kalau tidak kenal langsung orangnya, sulít percaya apa yang dilewatì Dedì Padiku adalah kisah nyata. Benar-benar keren!”
Wasi’ Kendedes, Aktivis Mural dan Desain Grafis

“Dedi pernah dilecehkan sebuah website kepenulìsan karena tidak mengertì pemakaian tanda baca dan huruf besar. Pernah ditolak dan ditertawakan tulisannya karena dianggap buku aliran Sesat. Tapi ia tidak menyerah sampai akhirnya buku ini berhasil diterbitkan. Tentu saja bukan perjuangan yang mudah.”
Isa Alamsyah

 ================================
Selanjutnya untuk resensi buku mengerjar-ngejar mimpi kali ini diresensi oleh http://zulfa-rahmatina.blogspot.com ……
==================================

Judul   : Mengejar-ngejar Mimpi

Penulis : Dedi Padiku

Coach Editor: Isa Alamsyah

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Tahun Terbit: Cetakan pertama, Mei 2014

Halaman: xii & 324 halaman

Hngg… bukan tanpa alasan, saya menukar bonus buku Catatan Hati di Setiap Doa karya Asma Nadia, dengan buku Mengejar-ngejar Mimpi pada Pak Isa Alamsyah melalui pm di facebooknya. Saya yang jarang membaca buku-buku komedi, entah kenapa, saat itu sedang sangat ingin membaca buku dengan genre tersebut.

Di antara terbitan AsmaNadia Publishing House, mungkin, hanya inilah yang menjawab keinginan saya tersebut. Apalagi, buku ini digadang-gadang sebagai diary kocak inspiratif! Wow. Saya juga banyak melihat komentar positif dari banyak pembaca tentang buku ini yang katanya, menggelikan sekali! Akhirnya, saya putuskan untuk mengambil buku ini.

Tapi, jika Dedi akhirnya mampu mewujudkan mimpinya, saya kira harapan saya yang tinggi dengan novel ini, tiba-tiba seperti seseorang yang dicampakkan ke dalam jurang oleh pacar, dan membuat wajah serta hatinya menjadi sekering kanebo. Ah, saya tidak tahu bagaimana ungkapan yang lebih menyakitkan daripada itu.

Membaca novel ini, entah mengapa mengingatkan saya pada novel-novel Andrea Hirata yang membuat dada saya sesak karena terlalu senang dengan hasil karya si Curly itu. Bukan, bukan karena pada novel ini, penulis menghadirkan kata-kata canggih dan abnormal seperti Andrea Hirata. Penulis juga tidak menggunakan kalimat-kalimat sains, yang biasa digunakan Andrea Hirata untuk menyihir pembacanya. Bukan itu, bukan…

Hanya saja, ketika Dedi mengumpamakan Iyen, gadis yang katanya tercantik di sebuah sekolah menengah kejuruan favorit di Gorontalo, dan lebih memlih dirinya yang ‘tidak ada apa-apanya’, aku teringat bagaimana Andrea Hirata dengan hebat mendeskripsikan Katya, bunga kampus Sorbonne University, yang juga memilih orang Indonesia sepertinya, yang ‘tidak ada apa-apanya,’ daripada pria-pria bule yang tentu lebih tampan, lebih pula mapan.

Saat Dedi menggambarkan tentang dirinya yang baru pertama kali melihat Monas, aku langsung teringat betapa heboh Andrea Hirata mengumpamakan si Nyonya Besar, Eiffel yang berdiri megah di pusat kota, Paris.

“Training… indah sekali kata-kata itu, terdengar elit,” (halaman 202), saat Dedi berpikir seperti itu, aku teringat bagaimana Andrea Hirata, dengan dada seperti ingin pecah karena terlalu senang, menyiapkan dengan rapi segala sesuatu yang akan membawanya pada kejadian yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya. Wawancara kerja! Andrea bahkan membaca buku tentang wawancara agar diterima.

Lebih dahsyat lagi, Dedi yang mendapat kerja bersama supervisor untuk mengunjungi pintu ke pintu guna menawarkan alat pijat listrik, Andrea Hirata juga pernah melakukan hal yang sama. Ia menjadi sales… perkakas rumah tangga, mungkin?

Saat impian Dedi berangkat ke Jepang kandas karena dia kurang tinggi dua sentimeter, dan ia membentur-benturkan kepalanya agar benjolan yang muncul di kepala dapat membantu impiannya tersebut terwujud, Andrea Hirata, memesan alat peninggi badan dari Jakarta, dan memakainya di sebuah gudang yang sepi. Alat peninggi badan sialan—aku tidak begitu ingat apa yang menjadikan Andrea Hirata ingin tinggi—yang karena mahal, juga hampir menghilangkan nyawanya.

Dedi juga terperangah melihat grup pengamen yang membawa biola, harmonica, gitar dan mulai mengamen di kopaja? Atau metromini? Setelah sebelum bernyanyi, mereka membuka dengan prolog yang puitis dan membuat Dedi menamainya seni kreatif jalanan. Sama seperti Andrea yang kagum dengan seni jalanan Eropa saat liburan musim panas dan membuatnya ikut memeriahkan euphoria musim panas dengan menjadi duyung.

Tentang sahabat Andrea Hirata yang selalu percaya dengan hal mistis dan kini besarnya dia jadi dukun, kau tahu kan, kawan? Mahar! Ya, Mahar! Dedi juga punya teman macam dia. Biar kukenalkan, namanya, Iwan.

“Wanita setengah baya, yang mungkin telah lupa bagaimana cara tersenyum, bertubuh sedikit gendut, dan berkulit putih. Walau begitu, ia tidak bisa dikatakan tidak menarik. Mungkin dulu ia seperti Dewi Sandra, kemudian dewasa seperti Yuni Shara, dan sekarang seperti Huges…” Andrea Hirata juga melakukan hal yang sama saat mendeskripsikan perempuan tua—yang kalau tidak salah ingat, adalah admin di Sorbonne?—dengan menyamakannya seperti artis-artis dengan ejaan nama yang sulit dan yang biasa ditemukan di majalah-majalah mode Eropa.

Oh, Tuhan… sebenarnya, masih banyak lagi hal yang saat membaca novel ini, membuatku selalu terngiang dengan satu nama: Andrea Hirata. Tapi karena aku terlalu lelah… biar kukisahkan pertemuanku dengan karya-karya Andrea.

Aku membaca banyak buku Andrea Hirata. Sering kali aku mengulang-ulang, mempelajari bagaimana dia bisa memadukan sains dengan sastra dengan sangat hebat. Saat membaca novel-novel Andrea Hirata, aku selalu merasa mabuk! Sejak duduk di bangku SMP, aku telah melahap novel Laskar Pelangi tebal yang membuat beberapa teman menciut saat kutawarkan pada mereka untuk membaca. Beranjak waktu, aku juga membaca Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta Dalam Gelas, juga Sebelas Patriot.

Aku selalu menikmati, dan tidak ingin lembar-lembar itu cepat habis. Saat membaca, aku bisa merasa sangat sedih, miris dan terpingkal di waktu yang sama karena Andrea Hirata mempunyai kebiasaan memadukan komedi dengan ironi. Cerita-ceritanya, bahkan tidak begitu saja bisa hilang dari benakku setelah beberapa tahun berjalan.

Dan saat mendapati novel ini, aku… tentu saja benar-benar terkejut! Karena berdasarkan pengalaman nyata, aku benar-benar tidak menyangka jika dua orang memiliki pengalaman yang hampir sama. Bedanya, Andrea Hirata, menjalani hidupnya di luar negeri yang membuat banyak ‘keajaiban’ itu terjadi. Dan Dedi mengalami kisahnya di Ibu Kota Jakarta. Apakah kejadian-kejadian mereka itu, hal biasa yang bisa terjadi pada siapa saja, atau… mereka melihat dari sudut pandang yang sama? Who knows? Jika itu jawabannya, aku memilih terus mengembangkan perasaan embuh-ku dan lebih baik tidak berlanjut memikirkan kebetulan yang banyak ini -_-

=========================================

Buku MENGEJAR-NGEJAR MIMPI karya Dedi Padiku ini dapat dibeli di Bursabukuberkualitas.com

Hubungi…

Sms/Whatsapp : 08986508779

PIN BB : 5872795E

LINE : bursabukuid
=========================================

Semoga Bermanfaat yaa sinopsis dan resensinya.. 🙂

About @Referensi_Buku

Hanya mereferensikan buku yang bibit, bobot, dan bebetnya berkualitas! Dapatkan info seputar buku bagus disini ! Insyaallah bermanfaat.
This entry was posted in @Referensi_Buku, asma nadia publishing house, buku autobiografi, buku bagus, buku best seller, buku dedi padiku, buku inspiratif, buku motivasi, buku panduan penulis and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to SINOPSIS dan RESENSI BUKU : MENGEJAR NGEJAR MIMPI karya Dedi Padiku

  1. Wulan says:

    jadi… saran anda beli buku ini atau tidak? sepertinya saya membaca bahwa “andrea hirata” begitu kuat rohnya di buku ini… ketika saya membaca suatu buku dan saat itu saya membayangkan buku yang lain yang sudah melekat erat dalam imajinasi, maka hilanglah selera untuk melanjutkan …

  2. Puji says:

    Di gramed ada ga ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s